ahlan wa sahlan..... wilujeung sumping...!

Selasa, 08 Maret 2011

modernisasi pesantren antara tuntutan dan ancaman

Dunia Pesantren telah ada sejak ratusan tahun lalu, dan selama itu telah terbukti berhasil membentuk pribadi-pribadi manusia yang berahlakulkarimah, baik, bermanfaat bagi masyarakat sekelilingnya, mandiri dan tidak mudah goyah dalam mengarungi kehidupan. Lembaga yang asli made in nusantara ini telah menjelma menjadi sebuah lembaga yang kokoh, mandiri, dan diakui oleh dunia.

Dalam sejarah perjuangan umat Islam Indonesia, terutama pada masa perjuangan kemerdekaan, masyarakat pesantren, santri dan ulama merupakan salah satu ujung tombak pergerakan melawan penjajah. Dalam perang 10 Nopember 1945 di Surabaya, misalnya, kaum ulama mengeluarkan Resolusi Jihad
yang disuarakan oleh K.H. Hasyim Asy’ari sehingga umat Islam bangkit melawan penjajah dengan perhitungan mati syahid. Di Aceh, kaum ulama yang sebagiannya juga tokoh tareqat mempelopori perang melawan penjajah pada masa dulu. Hikayat Prang Sabi merupakan syair yang digubah para ulama Aceh untuk mengobarkan semangat jihad dan mati syahid bagi rakyat Aceh dalam mengusir kaum kaphe (kafir) atau penjajah.
Ulama dan santri merupakan dua senyawa yang sangat akrab di telinga masyarakat Islam di Indonesia. Fakta ini pula yang menjadikan perkembangan Islam di Indonesia sangat khas dan unik. Masyarakat pesantren pulalah yang telah menjadikan banyak peneliti asing menjadi ahli Indonesia. Clifford Geertz, seorang antropolog asing yang meneliti tentang priyayi, santri, dan abangan di sebuah daerah di Jawa Timur, umpamanya.
Kata “santri” dalam khasanah kehidupan bangsa dan masyarakat Islam di Indonesia memiliki dua makna. Pertama, menunjuk ke sekelompok peserta sebuah pendidikan pesantren atau pondok. Kedua, menunjuk ke akar budaya sekelompok pemeluk Islam sebagaimana juga dimaknai oleh Clifford Geertz. Seperti itulah pendapat Abdul Munir Mulkhan, dalam buku Runtuhnya Mitos Politik Santri: Strategi Kebudayaan dalam Dakwah Islam (1994: 1).
Yang jelas, setelah ratusan tahun, pesantren kini dikucilkan. Akibat sedikit sekali media massa atau lembaga kemasyarakatan yang berusaha mengangkat sisi sesungguhnya dari dunia santri dan pesantren, santri dan dunia pesantren dipenuhi citra atau cap yang menakutkan. Masyarakat santri di pesantren dipandang oleh masyarakat umum nonpesantren dalam dua pemahaman yang merugikan.
Pertama, masyarakat santri di pesantren dipahami sebagai kelompok yang semata-mata berlajar agama dan kitab-kitab Islam tanpa peduli pada masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat umum. Kedua, dunia santri dan pesantren dicitrakan sebagai dunia yang tertutup atau eksklusif sehingga dekat dengan keterbelakangan, kekumuhan, dan kebodohan atas perkembangan dunia modern.
Masyarakat memandang zaman telah berkembang menuju era globalisasi. mereka menuntut pesantren sebagai institusi pendidikan untuk melakukan akselerasi dan transformasi yang cukup signifikan. Jika dahulu ruang lingkup output terbatas pada dimensi keagamaan saja, maka saat ini lulusan pesantren diharapkan dapat banyak berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Di latar belakangi hal itu, klasifikasi pesantren menjadi berubah. Dulu, mungkin kita hanya mengenal satu buah pesantren, pesantren dengan sistem salaf. Pesantren yang mempunyai manajemen dan administrasi pesantren sangat sederhana, dengan sistem pengelolaan pesantren berpusat pada aturan kiai yang diterjemahkan oleh pengurus pesantren. Tercatat sekitar 8.905 pesantren salaf ada di Indonesia.
Itu dulu, kini ada pesantren khalaf (modern), seperti pesantren Hayatan Thayyibah (Sukabumi), Darul-Ulum (Bogor), Husnul-Khotimah (Kuningan, Jawa Barat), Darunnajah dan Darurrahman (Jakarta), Darussalam Gontor (Ponorogo, Jawa Timur), al-Mu’min (Ngruki), as-Salam, al-Zaitun (Solo, Jawa Tengah), Pesantren Thawalib-Padang Panjang (Sumatera Barat), dan lain-lain. Pesantren khalaf bercirikan, 1) memiliki manajemen dan administrasi dengan standar modern; 2) tidak terikat atau tersentral pada figur kiai; 3) memiliki pola dan sistem pendidikan modern dengan perpaduan kurikulum antara mata pelajaran berbasis ilmu agama dan mata pelajaran berbasis pengetahuan umum. Di Indonesia, pesantren jenis khalaf ini tidak banyak. Jumlahnya sekitar 878 pesantren.
Lalu ada juga pesantren terpadu. Pesantren yang ini bertipe semi salaf sekaligus semi khalaf, seperti pesantren Tebuireng, Tambakberas-Jombang (Jawa Timur) dan Mathali'ul Falah-Kajen, Pati (Jawa Tengah). Pesantren terpadu ini bercirikan nilai-nilai tradisional yang masih kental sebab kiai masih dijadikan figur sentral. Norma dan kode etik pesantren klasik masih menjadi standar pola relasi dan etiket keseharian santri dalam pesantren. Namun, pesantren terpadu ini telah mengadaptasi sistem pendidikan modern sebagai bentuk respon atau penyesuaian terhadap perkembangan lembaga-lembaga pendidikan nonpesantren. Di Indonesia, jumlah pesantren tipe ini sekitar 4.284 buah.
Pesantren khalaf mengubah kurikulum tradisional dan beranjak pada suatu rumusan yang berbasis pada kebutuhan kontemporer. Sederhananya, para santri mereka kini tidak hanya diajari kitab kuning dan bahasa arab saja, melainkan diberikan juga bekal bahasa inggris, ilmu komputer, dan keterampilan pelengkap lainnya. Adapun konsep kurikulum yang ditawarkan pesantren modern ini lebih mengarah pada keterpaduan antara aspek kognitif (proses mengetahui yang serba ragam persepsi, mengingat, membayangkan, memperhatikan, menimbang dan berlogika), afektif (suasana hati, emosi) dan normatif (memegang teguh pada perilaku yang pantas) yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Perpaduan semacam itulah yang sekarang diminati oleh sebagian masyarakat. Mereka tidak lagi setuju pada konsep kurikulum yang hanya berorientasi pada penjernihan suasana hati dan penjagaan norma kemasyarakatan. Padahal, dalam perkembangannya terjadi perubahan signifikan pada proses modernisasi pesantren ini. Terjadi kesenjangan –ketidakseimbangan- paradigma, kerangka berpikir, antara aliran tradisional dan modern yang terkadang melahirkan konflik khilafiyah yang kontraproduktif.
Aliran modernis menuntut persinggungan yang intens dengan teknologi dan perkembangan informasi sehingga pesantren ini mengharapkan lahirnya pribadi yang moderat, pribadi berhaluan tengah dan open minded. Sementara aliran kitab kuning –dinisbatkan pada aliran tradisional– menuntut santrinya untuk tetap berkutat pada matan hadis maupun ilmu fiqih klasik serta mempertahankan keaslian dalil-dalil yang ada. Sehingga –menurut sebagian masyarakat- karakter yang terbina dari pesantren salaf cenderung konservatif, kolot, bersikap serta berusaha mempertahankan keadaan, tradisi, kebiasaaan dan berkarakter ekstrim.
Pandangan semacam itu, mungkin mereka peroleh akibat banyaknya kasus teror (bom) dan kekerasan yang melibatkan sebagian kecil santri Indonesia, ataupun juga karena pengaruh penilaian para pemikir asing yang mengatakan pesantren di Indonesia hanya tempat perkaderan muslim fundamental. Intelektual Barat memahami madrasah di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Barat sama dengan madrasah-madrasah Timur tengah. Padahal seperti yang kita ketahui, di Indonesia sebuah madrasah berbeda dengan pesantren. Sedang masalah keterlibatan beberapa santri Indonesia dalam kasus teror (bom) dan kekerasan belakangan ini, disinyalir karena "ideologi" impor, bukan produk asli pesantren Indonesia yang cenderung kultural.
Dalam prosesnya, hal ini mengakibatkan suatu efek pendulum yang melahirkan ekstrem baru, yakni paradigma liberalis kebarat-baratan. Ekstrem antikonservatif –golongan santri tradisional yang bertransformasi menjadi liberalis kebarat-baratan– ini telah muak berada pada kejumudan yang dirasakanya selama mondok. Sehingga ketika ia melihat suatu ideologi kebebasan di luar lingkungannya, terjadi euforia yang berdampak pada ‘banting setir’ paradigma. Faktor terlahirnya ekstrim baru ini adalah proses modernisasi santri tanpa disertai bekal ruhiyah yang kuat dan mendalam. Sehingga para santri menjadi terlalu permisif -memperbolehkan- terhadap ideologi lain dan dengan mudahnya mengesampingkan ideologi Islam yang selama ini ia pahami.
Fenomena inilah yang ditakutkan oleh pesantren salaf, ketika dia harus berubah mengikuti tuntutan masyarakat. Betapa banyak kalangan santri yang berubah jadi nyeleneh setelah mengenal ideologi-ideologi yang berkembang di belahan dunia Barat. Beberapa santri yang sudah lulus pesantren kemudian dibiayai kuliahnya ke luar negeri untuk mempelajari teologi Islam, malah balik menentang ideologi yang bertahun-tahun ia dapati di pondok dulu. Sebut saja Ulil Abshar, pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL). Tokoh organisasi liberalis ini dulunya adalah santri di salah satu pesantren modern. Kemudian ia disekolahkan ke Amerika pada jurusan teologi Islam dan kembali ke nusantara membawa sebuah ideologi baru; Islam Liberal.
Dalam konteks seorang Ulil Abshar, paradigma moderat dan open minded yang diharapkan dari seorang santri modern bagai api jauh dari panggang. Sepak terjangnya kini malah jauh lebih kontraproduktif bahkan menyesatkan bagi muslim-muslim abangan. Amanat orisinalitas ideologi Islam yang dulu ia emban bertransformasi menjadi sinkrotisme yang menyesatkan. Ulil gagal mencoba menerjang kaidah-kaidah yang ada dan memadukan Islam dengan kristen, yahudi dan agama-agama lainnya.
Kondisi memprihatinkan inilah yang tengah dihadapi belantara Islam. Di satu sisi masyarakat menginginkan perubahan dalam diri pesantren. Namun ketika sebagian pesantren berubah, banyak yang tidak setuju bahkan kecewa dengan outputnya, mondok bukannya jadi bener malah klenger. Maka bagaimana ia dapat berkontribusi positif bagi agamanya, ketika realitanya ia berbalik menentang ideologi ini.
Kalau kita telisik, faktor utama penyebab efek pendulum ini adalah penanaman bekal ruhiyah yang kurang mendalam. Pesantren masa kini tampaknya secara mendasar berupaya memberikan pembekalan keterampilan atau spesifikasi pada para santrinya yang akan terjun ke masyarakat. Di beberapa pesantren, berbagai bidang keahlian dapat dipilih oleh para santri sesuai minatnya, seperti pendidikan guru, pertanian, perikanan, kerajinan, dan lain-lain. Hal ini dapat dianggap sebagai negosiasi pesantren terhadap nilai-nilai baru yang berkembang dalam masyarakat akibat kemajuan ilmu, pengetahuan, dan teknologi. Padahal, dengan teknologi pula perubahan menjadi nyleneh akibat mengenal ideologi-ideologi di belahan dunia Barat dapat terjadi. Taruhlah internet.
Banyak pesantren modern mengesampingkan aspek ruhiyah, lembaga ini seakan lupa tujuan pertama sebuah pembelajaran, taqarrub ilallah. Maka menjadi suatu pengalaman berharga bagi para pengasuh pesantren modern, bila tidak ingin santri-santrinya hanya memahami ajaran Islam kulitnya saja, untuk lebih memperhatikan masalah ini.
Menurut Muhammad Ali, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama, “Menghadapi era Teknologi Informasi (TI) seperti sekarang ini, santri harus menguasai teknologi. Santri tidak boleh gagap teknologi. Pasalnya, bila tertinggal dalam penguasaan teknologi, akan ditinggal juga,” ketika ia memberikan sambutan pada peserta Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di Pondok Pesantren Al Hikmah 2, Benda, Kecamatan Sirampog, Brebes, Jawa Tegah, Kamis (11/12/08) lalu.
Memang, sepintas apa yang ia katakan dapat dibenarkan. Namun internet tetaplah sebuah pisau bermata dua. Di satu sisi, internet berbahaya kalau disalahgunakan, misalnya menyangkut masalah pornografi. Namun di sisi lain, bila dipergunakan dengan baik, internet juga menawarkan peluang dan memberikan manfaat yang sangat banyak, termasuk dalam bidang dakwah.
Menjadi generasi nyleneh, mungkin itulah bahaya terbesar yang dijauhi pesantren salaf. Dengan masuknya internet, berarti meresap pula ke dalamnya segala jenis pemikiran, yang ditakutkan tentunya dapat melahirkan Ulil-Ulil baru.
Melihat tuntutan masyarakat dan faktor utama kegagalan pesantren khalaf, akibat mengesampingkan faktor ruhiyah, mestinya kekurangan ini menjadi modal yang sangat berharga bagi pesantren salaf, pesantren yang tidak mau dan tidak akan mengesampingkan faktor ruhiyah, yang emoh dengan perkembangan, untuk kembali merajut kejayaannya. Biar bagaimanapun teknologi semakin tidak bisa dipisahkan dari seseharian kita. Kegagalan memanfaatkan sebuah teknologi yang dialami oleh sebagian penikmat kemajuan, sudah waktunya tidak membuat pesantren ketakutan. Yang terpenting, bagaimana pesantren mampu untuk mempertahankan kesalafan tanpa harus terbendung segala kemajuan. Mampukah?

1 komentar: